Jumat, 30 Desember 2011

ARTIKEL

MASALAH GIZI BURUK DI INDONESIA
Masalah gizi buruk yang terjadi di Indonesia sungguh sangat memprihatinkan. Media massa telah mengungkapkan informasi masalah gizi buruk lengkap dengan nama daerahnya. Dahulu masalah ini terjadi di daerah Sukabumi, yang sebenarnya subur dan alam yang indah itu. Sekarang ini, masalah gizi buruk terjadi di daerah Sulawesi Selatan. Masalah gizi buruk juga terjadi di Trenggalek, di tiga kecamatan, yaitu: Kecamatan Dongko, Kecamatan Gandusari, dan Kecamatan Pule. Ada sekitar 48 orang yang terkena masalah gizi buruk menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek.
Banyaknya orang yang terkena gizi buruk di Indonesia menimbulkan pertanyaan mengapa masalah gizi buruk terjadi di negeri yang kaya raya ini. Padahal Indonesia adalah Negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, masalah pangan seharusnya tidak akan menjadi masalah yang besar. Dengan laut yang luas dan tanah yang subur, ikan hanya tinggal mengambil, semua jenis tanaman pangan hanya tinggal menanam dan memanen. Tentu kita berpikir “begitu melimpahnya kekayaan Indonesia, kenapa rakyatnya masih miskin?, kenapa masih saja ada rakyat yang terkena gizi buruk?”. Apakah semuanya karena kesalahan kita sendiri, seperti halnya bencana alam yang sering terjadi.
Mungkin banyak orang berpikir masalah tersebut disebabkan karena faktor ekonomi. Orang yang terkena masalah gizi buruk berasal dari penduduk yang miskin, mungkin karena tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Kenapa tidak memiliki pekerjaan yang tetap? Pertama, mungkin karena tidak mempunyai lahan lagi yang dapat dikejakan. Kedua, tidak memiliki keterampilan yang memadai. Ketika seorang hanya memiliki satu keterampilan, misalnya sebagai tukang becak, maka jika tidak ada lagi orang yang mau naik becak, karena makin banyak yang sudah punya motor atau mobil sendiri, maka matilah pekerjaannya sebagai tukang becak. Oleh karena itu, ia tidak akan mampu menghidupi keluarganya, maka terjadilah gizi buruk tersebut. Dari sudut ekonomi, pemecahan masalahnya tidak lain adalah penyediaan lapangan kerja dan sekaligus pelatihan keterampilan bagi para pencari kerja.
Selain faktor ekonomi masih ada faktor lain yang mungkin menyebabkan timbulnya masalah gizi buruk ini. Faktor tersebut tidak lain adalah pendidikan, kurangnya pendidikan menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat akan pola hidup sehat. Oleh karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan hal tersebut, maka terjadilah gizi buruk tersebut. Perlu digarisbawahi masyarakat Indonesia perlu pendidikan yang baik dan tidak adanya diskriminasi, baik yang di kota maupun yang di desa semuanya diberikan pendidikan yang sama. Pendidikan yang baik ini diharapkan akan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pola hidup sehat, termasuk di dalamnya pola makanan yang sehat. Sebenarnya, alam kita yang kaya telah menyediakan semuanya. Yang diperlukan adalah kerja keras, kerja sama, komunikasi dan saling menyayangi antara sesama kita.
Faktor yang lain adalah penyakit bawaan seperti jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan dan diare. Rata – rata orang yang terkena gizi buruk adalah orang yang sudah memiliki penyakit sejak ia lahir atau sejak masih dalam kandungan. Kita semua pasti tahukan bagaimana rasanya kalau lagi sakit, pasti nafsu makan kita akan berkurang. Kalau makan saja tidak mau bagaimana cara kita bisa memdapatkan gizi yang cukup? Mungkin jalannya hanya dengan mengobati penyakitnya terlebih dahulu. Tapi lain ceritanya kalau yang menderita penyakit tersebut orang miskin, pasti akan timbul pertanyaan bagaimana mau mengobati kalau tidak punya uang?. Tapi itu memang benar “sehat itu mahal, hanya orang kaya saja yang bisa sehat” mungkin itulah yang selalu ada dalam pikiran orang – orang miskin.
Pemerintah memang  sudah mempunyai program untuk menanggulangi masalah gizi buruk ini, seperti program raskin, Konsep Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan lain - lain. Tetapi program ini belum berjalan dengan baik, mungkin karena ada penyimpangan – penyimpangan dalam pelaksanaannya. Program – program pemerintah memang sudah baik, hanya saja perlu dibenahi dalam pelaksanaannya saja. Sebelum memulai program ini pemerintah harus tahu dulu keberadaan rakyat miskin agar tujuan program bisa tepat pada sasaran. Untuk dapat mengetahui keberadaan rakyat miskin ini, para RT dan RW, kepala desa dan camat seharusnya memiliki data yang akurat tentang kondisi rakyat di daerahnya. Kalau tidak, pertanyaan yang muncul adalah, apakah pemerintahan di daerah yang mengalami masalah gizi buruk sebenarnya telah melaksanakan program dengan baik? Apakah program raskin dapat menjangkau daerah yang mengalami masalah gizi buruk ini?. Data akurat ini akan dapat menjadi bahan evaluasi kebutuhan tentang kecakapan apa yang diperlukan oleh masyarakat, untuk kemudian pemerintah daerah dapat membuka jenis kursus yang diperlukan masyarakat seperti PKBM.
Saya secara pribadi berharap pemerintah cepat tanggap dengan  masalah ini sehingga tidak berlarut – larut lagi. Pihak – pihak yang terkait dengan masalah ini sebaiknya meninjau kembali program – program yang dijalankan. Apakah program – program tersebut sudah berjalan dengan sebagaimana mestinya atau tidak, sehingga semua masyarakat yang benar – benar membutuhkan program tersebut bisa merasakan manfaatnya. Pemerintah harus mengevaluasi pelaksanaan program – programnya agar saat terjadi penyimpangan bisa cepat diperbaiki. Mungkin dengan tindakan seperti ini masalah bisa teratasi dan diselesaikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar